Revolusi Pendidikan Vokasi, Guru Pemasaran Dituntut Jadi Arsitek Pengalaman Belajar
By Admin

Seminar Nasional Digital Marketing e-Guru.id
nusakini.com, Pergeseran tren industri digital menuntut tenaga pendidik bidang pemasaran untuk mengubah metode pengajaran mereka secara fundamental. Menurut pakar vokasi Ahmad Madani, guru kini harus berevolusi menjadi perancang pengalaman belajar bagi para siswanya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Digital Marketing e-Guru.id di Semarang pada Jumat, 14 Agustus 2026. Acara pendidikan tersebut membahas pentingnya merancang sistem pembelajaran pemasaran yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Ahmad menyoroti fenomena banyaknya lulusan sekolah vokasi yang menguasai teori pemasaran namun diduga kebingungan saat menghadapi praktik kerja nyata. Kondisi ini menuntut pihak sekolah untuk segera mengevaluasi apakah sekadar menyelesaikan kurikulum sudah berbanding lurus dengan pembentukan kompetensi.
Penggunaan kecerdasan buatan atau AI di ruang kelas juga menjadi salah satu poin krusial dalam pemaparan tersebut. Teknologi AI dinilai harus diposisikan sebagai alat bantu penyelesaian masalah, bukan malah dijadikan tujuan akhir dari sebuah pembelajaran.
"Guru bukan sekadar orang yang memberikan seluruh jawaban," tegas Ahmad Madani dalam presentasinya. Ia menambahkan bahwa pendidik bertugas merancang situasi yang memaksa siswa untuk berpikir, mengambil keputusan, hingga memperbaiki hasil kerjanya.
Metode asesmen konvensional seperti ujian pilihan ganda dinilai tidak lagi mencukupi untuk mengukur kemampuan calon tenaga pemasar profesional. Berdasarkan tinjauan tersebut, sekolah didorong untuk mulai memprioritaskan simulasi pelanggan, analisis data, hingga praktik penjualan langsung.
"AI adalah partner pembelajaran, bukan pengganti otak marketer," jelas Co-Founder AGMARI tersebut di hadapan para peserta seminar. Pendekatan ini menegaskan bahwa kepekaan observasi dan empati terhadap audiens tetap harus dikendalikan secara penuh oleh manusia.
Alur pembelajaran baru yang ditawarkan bermula dari identifikasi masalah, yang kemudian dilanjutkan dengan penyusunan strategi pemasaran komprehensif. Setelah itu, eksekusi dapat dibantu oleh teknologi AI sebelum diakhiri dengan proses evaluasi keputusan secara mendalam.
Dunia kerja masa depan diproyeksikan akan lebih mencari bukti nyata berupa portofolio alih-alih deretan nilai teori di atas kertas. Oleh karena itu, ruang kelas pemasaran diimbau untuk segera beralih fungsi menjadi laboratorium praktik bagi para calon profesional. (*)